SEO YANG MENDATANGKAN DUIT

BITCOIN WALLET

Minggu, 29 Juni 2008

WIL (wanita idaman lainnya)

Wanita Idaman Lainnya
Oleh : Iskandar Hadi

Hatiku telah berselingkuh dengan perempuan lain, bukan yang sesungguhnya, aku mencintai seseorang yang kemungkinan tidak akan mencintai saya, dan itu adalah benar aku bertepuk sebelah tangan dan tidak akan mungkin untuk dia membuka pintu hatinya untukku, tapi….. aku memang mencintainya bagaimana ini ? dan aku akan membiarkan diriku dalam keadaan ini, tidak peduli aku benar atau salah, ini semua hanya angan saja, aku adalah benar, aku tidak berzina dan tidak pula melanggar norma perkawinan dengan istri saya, tapi ….. aku merasa telah mengkhianati istri dan anak-anakku, aku memang begitu, dan memang keadaannya memang sudah kronis dan tidak bisa dikendalikan lagi, aku jujur mencintai wanita tersebut tanpa sepengetahuan istriku. Aku katakan padanya bahwa aku memang mencintainya dan aku tak butuh jawaban apapun, penerimaan, penolakan, atau kebencian yang aku dapatkan darinya. Aku hanya menyampaikan isi hatiku dan dia berhak menolak atau menerimanya, sementara aku hanya berhak menjadi pendengar apapun keputusan darinya.
Secara logika aku tidak akan rugi apapun, diterima aku tak rugi ditolak juga tidak apa-apa, aku hanya berhak mencintai dan bukan berarti wajib memiliki. Aku berhak menyampaikan isi hati dan tidak berhak memaksanya untuk menerimaku. Ini menjadi pengalaman tersendiri, dan ini memang menarik untuk saya jelaskan bagaimana ini bisa terjadi ? Aku telah mengkhianati istri ? Bila menyukai wanita lain dan tidak ingin memiliki, hanya sekedar simpati dan suka atau cinta padanya lalu menyampaikan isi hati dan tidak ada tindakan lainnya ? Biar jawaban itu aku tanggung sendiri. Aku rasa tidak perlu dijelaskan lagi. Aku memang butuh orang yang kuajak bicara secara lebih intim atau akrab, aku berharap dia menjadi begitu, sekedar teman ngobrol dan bukan pacar atau WIL atau yang lain. Kalau toh aku mencintainya sekedar saja untuk mengungkapkan bahwa itu memang benar dan aku tidak suka berbohong dengan hatiku sendiri, bila mencintai atau menyukai seseorang akan kukatakan dengan jujur, tidak peduli apa reaksi dari orang tersebut, bila bereaksi jelek itu hak dia, bila bereaksi baik itu hak dia juga, aku hanya menyampaikan apa yang ada dalam benakku dan tidak perlu opini dan justifikasi dari orang lain. Malu ? tidak aku tidak malu untuk mengatakan bahwa aku mencintai atau menyukai seseorang, aku sungguh tidak malu, itu hakku dan itu juga merupakan keberanian untuk menyampaikan aspirasi yang berasal dari kejujuran hati, walau bukan hati nurani, tapi aku menyangkal aku ingin memilikinya. Aku katakan berkali-kali padanya, aku tidak tahu apa penyebabnya, aku jujur mencintainya bukan dibuat-buat, tapi aku juga jujur dan mengaca diri bahwa aku tidak hendak memilikinya., memang demikian adanya. Dan aku berdoa kepada Tuhan bila dia memang jodoh keduaku aku pun tidak menolaknya untuk menjadi istri ke duaku ? Aku naif ? Tidak karena aku merasa bisa menjadi suami yang baik bagi istri-istriku, itu hanya sebuah permisalan bila memang ada takdir untuk hal itu. Tapi secara jelas aku katakan aku memang tidak berniat dan berazam menjadikan dia istriku yang lain, aku tidak berniat begitu, dan yakinlah aku memang akan setia kepada istri dan anakku, itu komitmen. Kini dia sudah menjauhi aku dengan alasan yang memang masuk akal, aku hanya berharap dia baik-baik saja.
“Dik, kalau saja aku lahir pada masamu, aku akan berusaha untuk menjadikanmu kekasih hatiku, walau kenyataannya mungkin kau menolakku”, kataku. “ Ah, mas bisa saja, itu hanya masalah waktu saja, dan mas tahu, waktu tak bisa dibalikkan”, dia menimpali. Dari tatapan matanya aku tahu, ia mungkin sedikit terkejut dengan apa yang aku sampaikan, ia tersenyum tipis saja. “Lalu semisalnya itu terjadi bagiamana apakah kau mau menjadi kekasihku ?”, aku bertanya pelan. “ Mungkin saja, tergantung seberapa keras usaha mas dalam membuktikan cinta mas padaku”, seraya tersenyum ia menjawab.
Kami berpisah beberapa lama, dia pergi ke luar kota dengan teman-teman sekerjanya. Dan aku rasakan sejak kepergiannya aku telah menjadi orang yang kehilangan dia, aku tidak tahu apakah aku telah jatuh cinta sungguhan padanya ? Lalu apa kamu tidak ingin membicarakannya lagi ? Hatiku mengusik logikaku. Tentu saja tidak, aku bukan orang single lagi dan tidak akan aku beristri dua, mungkin aku tidak memikirkannya lagi? Ah yang benar saja, kau selalu merindukannya siang dan malam, tiga hari tidak bertemu dia, kau merindukannya bukan ? Kau sering memandang ke arah dia biasa berjalan, di dekat taman bunga itu, dan kau sering melihat kantornya, tempat duduknya, kau merindukan senyumannya bukan ? Hatiku berkata terus memberi wejangan palsu. Ah, itu hanya perasaanku sendiri, bukankan istriku lebih baik darinya ? Logikaku berkata lirih seolah menunggu bantahan dari hatiku. Tidak menurutku, istrimu sudah tua, kau sudah bosan barangkali, dia kan sudah turun mesin dengan melahirkan anakmu, sementara dia wah…. kau bisa bayangkan sendiri, masih muda dan segar apakah sama pengelihatanmu dengan ku ? Logikaku pun mulai mempercayai hatiku yang memang mengarah ke situ. Benar !!! Aku analisa sendiri apakah aku memang benar tidak ingin mewujudkan impianku yang menurut logika tidak baik dan menurut hati sangat indah, dengan beberapa pertempuran antara hati dan logikaku, aku berarti sedang memikirkannya? Ya itu benar adanya…..
Tiba-tiba dia datang…. “Mas, ini oleh-oleh dariku waktu kemarin aku pergi ke Jogjakarta, ini ada yang namanya tiwul, tempe dan wingko babat, apa mas mau ?”, aku terperanjat. “ Eh, iya tapi jangan sebanyak itulah, aku kan lagi tidak bersama istri dan anakku, cukup sedikit saja”, aku jawab dengan sekenanya. “ Oh… ya, istri mas perasaan lama banget pulang kampungnya, apa mas lagi kangen ya mereka ?”, tanya gadis ini dengan tersenyum, wah cantiknya. “ Iy… iya lah”, jawabku. Aku kumpulkan tenaga dan keberanian untuk menyatakan isi hatiku padanya lalu….. “ Dik, apakah kamu sudah punya pacar ?”, tanyaku. “Sudah, dia orang Depok Timur dan tidak lama lagi kita akan menikah, memangnya kenapa ?”, dia jawab dengan cepat. “ Aku ucapkan selamat ya, sebab sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk bermimpi tentang kamu, dik “, aku berkata sambil menunduk. Dia menoleh dengan pelan kearah lain dan tidak berkata apa-apa, lalu dia meletakkan oleh-oleh yang dia bawa dari Jogja tadi, di meja. Perlahan dia menatapku dengan tatapan yang penur arti, aku sendiri tidak tahu apa artinya lalu dia berkata “Mas, aku hanya menganggap mas sebagai sahabat, bahkan seperti mas ku sendiri, karena memang kalian memiliki persamaan, perhatian dan tidak pernah membiarkan adiknya sedih, aku hanya sebatas itu mas, dan pilihan hatiku sudah ada, dia tidak setampan mas, dan tidak lebih baik dari mas, tapi aku mencintainya oleh karena itulah aku mau dinikahinya”, dia menjelaskan padaku. “Ya, memang sudah seharusnya begitu, tapi apakah aku boleh mencintaimu ?”, aku bertanya dengan harapan mendapat jawaban secepatnya. Degup jantungku kencang, tidak seperti waktu aku bertemu wanita-wanita lainnya, wanita ini sangat membuatku gugup. Dia mengerutkan dahinya lalu berkata “Boleh saja, hanya manifestasi dan perwujudan cinta itu kan tidak harus saling memiliki, bila saja seperti yang mas sampaikan beberapa bulan yang lalu, aku masih ingat, bila kita bisa memutar waktu, mungkin sekali mas menjadi kekasihku….. dan aku ucapkan terima kasih atas cinta mas padaku, ini hanya untuk kita ketahui berdua saja, tidak orang lain, apakah mas setuju ?“, dia bertanya padaku. “Ya, setuju dan mas berharap ini bukan perselingkuhan, hanya perasaan hati masing-masing yang memang harus disampaikan, karena kita memang berbeda zaman dan tidak mungkin kita merubah hal itu”, tukas ku. Dia mengangguk setuju dan tidak ada perbincangan yang lainnya antara kita, dia mengetahui aku adalah lelaki yang tidak mungkin bisa mengisi hatinya, lalu dia pergi dengan senyum khasnya. “Sudah ya mas, aku pulang dulu”, dia berlalu dari hadapanku.
Hari ini kalau tidak salah anak dan istriku akan pulang, karena hajatan kelurga di kampung telah selesai, aku merasa senang sekali dan menunggu kepulangan mereka, menantikan senyum dan hangatnya pelukan mereka. Dan aku berandai-andai apakah akan menyampaikan kepada istri perihal perasaanku dengan gadis sebelah atau tidak, tapi menurut pendapat saya, hal itu tidak usah disampaikan sebab bila disampaikan akan menjadi preseden buruk keutuhan rumah tangga kami. Saya katakan pada diri sendiri, biarlah aku saja yang tahu, toh aku belum berbuat apapun dengan dia, hanya sebatas menyampaikan isi hati dan tidak melakukan tindakan yang tidak pada tempatnya. Dan bila secara batin dia kukhiatanati apakah aku termasuk orang yang melanggar aturan dan hati nurani. Aku tidak menuntut kepada istri untuk memberikan pelayanan ekstra dan istimewa, bagiku istri dan anak adalah kawan yang paling dekat, paling mendukung dan menjadi sumber kekuatan bagi saya. Dan saya juga akan memberikan pelayanan yang ekstra kepada istri juga uang belanja yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Pa, Ibu dan Saudara di kampung sehat-sehat semua, dan mereka titip salam pada Bapa, dan ini dari Ibu sebuah baju batik yang halus sekali, bagus kan ?”, dia membuka sebuah bungkusan yang berisi batik dan beberapa potong kain yang langka di Depok sini, tak lupa dia membawa makanan khas daerah asal saya, keripik tempe. Aku memandang sekilas kepada istriku, aku perhatikan dengan teliti dan aku bayangkan ketika kami baru saja bertemu, dia begitu membuatku terpana waktu itu, dan aku menyayanginya sekarang lebih dari sekedar bentuk tubuh dan wajahnya, aku menyayanginya lebih dari waktu baru bertemu, karena saya baru menyadari bahwa dia adalah sosok yang sangat setia membantu saya, selalu berdiri di belakangku bila aku butuh dukungan, bila aku resah dia memberiku kedamaian, dia menjadikan aku orang yang kuat, dan tidak mengeluh dengan uang belanja yang tidak berlebihan dan yang paling berkesan dia memberi saya anak-anak yang cantik-cantik, aku seperti terpana melihatnya sepertinya dia orang yang baru aku kenal, aku menjadi begitu tergila-gila pada istriku sekarang, apakah ini akibat baik dari sesuatu yang aku lakukan selama dia pulang kampung dengan wanita idaman lainnya, gadis tetangga itu ? Dan semoga dia tidak tahu bahwa aku telah menyalahgunakan kepercayaannya selama ini. “Mama, aku ingin memelukmu sekarang”, aku dengan seketika memeluk istriku. “Bapa, kangen sama mama ?”, istriku tersenyum kelihatan raut bahagia di wajahnya. Akupun demikian, dalam hati aku berkata “maafkan bapa ma”. Dia memang ratu yang diciptakan untukku dan aku tidak boleh lagi mengkhianati cintanya.
Depok, Juli 2008

Tidak ada komentar:

IKLAN DI BLOG SAYA

DAFTAR PAYPAL GRATISS..!!!

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.